Jombang — Pondok Pesantren Al-Aqobah International School (AIS) menjadi tuan rumah kegiatan Halaqoh Berbagi Inspirasi & Inovasi dalam rangka Tabarrukan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Memperkuat Eksistensi Pesantren sebagai Mata Air NU di Era Globalisasi”.
Kegiatan dilaksanakan pada Jumat, 28 Agustus 2026, bertempat di Pondok Pesantren Al-Aqobah International School, mulai pukul 13.00 hingga 16.30 WIB.
Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum berbagi gagasan mengenai bagaimana pesantren dapat terus memperkuat perannya di tengah perubahan zaman dan tantangan globalisasi.
Pesantren sebagai Mata Air NU di Era Globalisasi
Pesantren sejak dahulu memiliki posisi penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama. Tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, pesantren juga berkembang sebagai ruang pembentukan karakter, penguatan tradisi keilmuan, serta tempat lahirnya berbagai gagasan untuk menjawab persoalan masyarakat.
Melalui tema “Memperkuat Eksistensi Pesantren sebagai Mata Air NU di Era Globalisasi”, halaqoh ini mengajak para peserta untuk melihat kembali posisi strategis pesantren sekaligus merumuskan langkah-langkah inovatif agar pesantren tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Globalisasi membawa perubahan yang begitu cepat, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan pola komunikasi, hingga tantangan pendidikan generasi muda. Dalam kondisi tersebut, pesantren dituntut tidak hanya mampu mempertahankan tradisi keilmuan dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi juga mampu melakukan inovasi tanpa kehilangan jati dirinya.




Menghadirkan Tokoh dari Berbagai Bidang
Halaqoh menghadirkan sejumlah tokoh dan praktisi dari berbagai latar belakang untuk berbagi pengalaman, inspirasi, dan perspektif mengenai perkembangan pesantren dan Nahdlatul Ulama.
Di antaranya KH. Muchlis Yusuf Arbi, LC., MA., Pengurus PENA dan PCI NU Mesir; Dr. KH. M. Nur Hayid, S.Th.I., MM., Komisioner BNSP; Dr. Nasridin Anshory, budayawan dari Jogja; Dr. Puji Rahardo, Ketua PWNU Lampung; Gus Dr. H. Addin Jauharudin, Ketua Umum PP GP Ansor; serta Dr. KH. A. Musta’in Syafi’i, Mudir Madrasatul Qur’an (MQ) Tebuireng.
Kehadiran narasumber dari berbagai bidang tersebut memberikan warna tersendiri bagi kegiatan. Pesantren tidak hanya dibahas dari perspektif pendidikan agama, tetapi juga dikaitkan dengan budaya, profesionalisme, organisasi, kaderisasi, serta tantangan masyarakat global.
Sementara itu, kegiatan berlangsung di bawah naungan KH. Ahmad Junaidi Hidayat, SH., S.Ag., Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aqobah.
Meneguhkan Peran Pesantren di Tengah Perubahan Zaman
Halaqoh ini diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi mampu melahirkan semangat dan gagasan baru bagi pengembangan pesantren.Pesantren memiliki modal besar berupa tradisi keilmuan, kedekatan dengan masyarakat, serta nilai-nilai pendidikan karakter. Modal tersebut menjadi kekuatan penting untuk menghadapi era globalisasi.
Di sisi lain, pesantren juga perlu terus membuka diri terhadap perkembangan teknologi, inovasi pendidikan, penguatan kompetensi sumber daya manusia, serta berbagai perubahan sosial yang dihadapi generasi muda.Dengan demikian, pesantren dapat tetap menjadi “mata air NU” yang tidak hanya menjaga nilai-nilai warisan ulama, tetapi juga mampu memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan baru yang muncul di tengah masyarakat.
Tabarrukan Muktamar NU ke-35
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk tabarrukan atau mengambil keberkahan dalam momentum Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35. Semangat tersebut diwujudkan melalui forum yang mempertemukan berbagai pemikiran, pengalaman, dan gagasan untuk memperkuat peran pesantren dalam perjalanan Nahdlatul Ulama dan kehidupan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Al-Aqobah International School menegaskan komitmennya untuk terus menjadi bagian dari ikhtiar pengembangan pendidikan pesantren yang berakar pada tradisi, terbuka terhadap inovasi, dan siap menghadapi tantangan global.
Semangat tersebut menjadi penting agar pesantren tidak sekadar menjadi tempat untuk mewariskan ilmu dan tradisi, tetapi juga menjadi ruang lahirnya generasi yang mampu berilmu, berkarakter, berdaya saing, serta tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman dan ke-NU-an.



